Sabtu, 23 Februari 2013

Pembelajaran Kontekstual


    1.   Konsep Dasar dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
            Para ahli menyebut pembelajaran kontekstual atau contextual, teaching and learning dengan istilah yang berbeda-beda, seperti: pendekatan pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran kontekstual, dan model pembelajaran kontekstual. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut, pada dasarnya kontekstual berasal dari bahasa Inggris “contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks.Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung.
            Ada dua pengertian pembelajaran kontekstual: Pertama,merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Kedua, merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005).

Berdasarkan pengertian pembelajaran kontekstual diatas, dapat diperjelas sebagai berikut:
a.    Pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar berorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
b.    Pembelajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah denga kehidupan nyata di masyarakat
c.    Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran kontekstual tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
                        Terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran kontekstual yaitu pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru, pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk diyakini dan diterapkan, mempraktekkan pengalaman dalam kehidupan nyata dan melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

P  2. Pendekatan dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual
a.    Pendekatan pembelajaran kontekstual
     Pendekatan pembelajaran kontekstual menekankan pada aktifitas siswa secara penuh baik fisik maupun mental dengan memandang siswa sebagai individu yang sedang berkembang, artinya kemampuan belajar sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Selain menekankan pada aktifitas siswa secara penuh, pembelajaran kontekstual memandang bahwa belajar bukanlah kegiatan menghafal, mengingat-ngingat fakta, mendemonstrasikan latihan secara berulang-ulang akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata sehingga siswa menemukan materi pelajarannya sendiri bukan hasil pemberian  guru.
b.    Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual
     Menurut Elaine B. Jhonson (dalam Irianti, 2010 [Online]), dalam pembelajaran kontekstual minimal ada tiga prinsip yang digunakan, yaitu: saling ketergantungan, diferensiasi, dan pengorganisasian.
        Pertama, prinsip saling ketergantungan (interdepence), menurut hasil kajian para ilmuwan segala yang ada di dunia ini adalah saling berhubungan dan tergantung begitu pun dalam pendidikan dan pembelajaran. Sekolah merupakan suatu sistem kehidupan yang terkait dalam kehidupan di rumah, di tempat bekerja maupun di masyarakat. Dalam kehidupan di sekolah siswa saling berhubungan dan bergantung dengan guru, kepala sekolah, tata usaha, orangtua dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, siswa berhubungan dengan bahan ajar, sumber belajar, media, sarana prasarana belajar, iklim sekolah dan lingkungan. Saling berhubungan ini harus memberi makna tersendiri sebab makna ada jika ada hubungan yang berarti. Oleh karena itu, melalui pembelajaran kontekstual dapat menjadi penghubung antara keterkaitan konsep yang dipelajari di sekolah dengan penerapan dalam kehidupan nyata.
            Kedua, prinsip diferensiasi (differentiation) yang menunjukkan kepada sifat alam  yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman, keunikan. Diferensiasi bukan hanya menunjukkan perubahan dan kemajuan tanpa batas, akan tetapi juga satuan kesatuan yang berbeda tersebut berhubungan, saling tergantung dalam keterpaduan yang bersifat saling menguntungkan. Prinsip diferensiasi yang dinamis tersebut bukan hanya berlaku dan berpengaruh pada alam semesta, tetapi juga pada sistem pendidikan. Para pendidik dituntut untuk mendidik, mengajar, melatih dan membimbing sejalan dengan prinsip diferensiasi alam semesta ini. Proses pendidikan dan pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan menekankan kreativitas, keunikan, variasi dan kolaborasi. Konsep-konsep tersebut bisa dilaksanakan dalam pembelajaran kontekstual karena pembelajaran kontekstual sangat menekankan aktivitas dan kreativitas siswa.
            Ketiga, prinsip pengorganisasian diri (self organization), setiap individu atau kesatuan dalam alam semesta mempunyai potensi yang melekat, yaitu kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain. Segala sesuatu memiliki organisasi diri, keteraturan diri, kesdaran diri, pemeliharaan diri dan hal lain yang khas dan berbeda dengan yang lainnya. Prinsip organisasi diri menuntut para pendidik di sekolah agar mendorong semua siswanya untuk dapat memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, mencapai keunggulan akademik, penguasaan keterampilan standar, pengembangan sikap dan moral sesuai dengan harapan masyarakat.
3.      Kelebihan pembelajaran kontekstual dibandingkan pembelajaran konvensional
Konteks Pembelajaran
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Konvensional
Hakikat Belajar
Konten pembelajaran selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata yang diperoleh sehari-hari pada lingkungannya
Isi pelajaran terdiri dari konsep dan teori yang abstrak tanpa pertimbangan manfaat bagi siswa
Model pembelajaran
Siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, praktikum kelompok, saling bertukar pikiran, memberi dan menerima informasi
Siswa melakukan kegiatan pembelajaran bersifat indivdual dan komunikasi satu arah, kegitan dominan mencatat, menghafal, menerima intruksi guru
Kegiatan pembelajaran
Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran dan berusaha menggali dan menemukan sendiri materi pembelajaran
Siswa ditempatkan sebagai objek pembelajran yang lebih berperan sebagai penerima informasi yang pasif dan kaku
Kebermaknaan belajar
Megutamakan kemampuan yang didasarkan pada pengalaman yang diperoleh siswa dari kehidupan nyata
Kemampuan yang didapat siswa berdasarkan pada latihan-latihan dan drill yang terus menerus
Tindakan dan perilaku siswa
Menumbuhkan kesadaran daripada anak didik atas dorongan dirinya sendiri bukan karena faktor yang lain
Tindakan dan perilaku individu didasarkan oleh faktor luar dirinya, tidak melakukan sesuatu karena takut sanksi, kalaupun melakukan sekedar memperoleh nilai atau ganjaran
Tempat belajar
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan seting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
Tujuan hasil belajar
Pengetahuan yang dimiliki bersifat tentatif karena tujuan akhir belajar adalah kepuasan diri
Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pembelajaran bersifat final dan absolut karena bertujuan untuk nilai

4 3.   Asas-asas dalam pembelajaran kontekstual
Komponen-komponen pembelajaran kontekstual memiliki tujuh asas dalam proses pembelajarannya, meliputi: kontruktivisme, Inkuiri, Bertanya,  Masyarakat Belajar, Pemodelan, refleksi dan Penilaian Nyata.
a.    Kontruktivisme
     Kontruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Jean Piaget (Sanjaya 2005) menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menganggap setiap objek yang diamatinya.
b.    Inkuiri
     Inkuiri bisa diartikan sebagai proses pembelajaran berdasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pada pembelajaran inkuiri tindakan guru bukanlah untuk mempersiapkan anak menghapal sebuah materi akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
c.    Bertanya (Questioning)
     Bertanya merupakan wujud nyata keingintahuan setiap indiviu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran kontekstual guru tidak banyak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi berusaha memancing agar siswa menemukan sendiri pengetahuan yang ingin diketahuinya.
d.   Masyarakat Belajar
     Dalam kelas pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan melalui kelompok belajar. Siswa dapat dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat kemampuannya maupun kecepatan belajar, minat dan bakatnya. Dalam kelompok mereka bisa saling bertukar pengetahuan, jika perlu guru bisa mendatangkan seorang narasumber kedalam kelas, misalnya dokter berbicara tentang kesehatan di dalam kelas.
e.    Pemodelan (Modeling)
     Pemodelan merupakan proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Contohnya seorang guru kesenian memberikan contoh bagaimana bermain angklung kepada para siswanya. Proses modeling ini tidak terbatas dari guru saja, tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang memiliki keterampilan untuk menjadi model.
f.     Refleksi
     Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan siswa menafsirkan pengalamannya secara bebas, sehingga siswa dapat memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuknya dan menambah khasanah pengetahuannya.
g.    Penilaian
     Penilaian nyata  dilakukan sejalan dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan meliputi seluruh aspek domain penilaian oleh sebab itu penilaian nyata lebih menekankan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.
h.    Model Pembelajaran Kontekstual
     Dengan model pembelajaran kontekstual siswa diajak untuk memecahkan suatu masalah yang muncul di kehidupan sehari-hari yang relevan dengan konsep pembelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Biarkan siswa mengungkapkan dengan kata-kata mereka sendiri bagaimana solusi terbaik versi mereka, biarkan mereka mengemukakan argumentasinya sesuai dengan taraf berpikir siswa sekolah dasar.

5 4.     Model Pembelajaran Kontekstual
Ada beberapa tahapan dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu invitasi, eksplorasi, penjelasan dan solusi, dan pengambilan tindakan.
a.    Invitasi
         Pada tahap ini siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang dibahas. Bahkan bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan tentang masalah kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan konsep yang dibahas.
b.    Eksplorasi
           Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk meneliti dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, penginterpretasian data dalam sebuah kegiatan.
c.    Penjelasan dan Solusi
           Pada tahap ini siswa dapat memberikan solusi yang didasarkan pada hasil penyelidikannya ditambah dengan penguatan dari guru.
d.   Pengambilan Tindakan
           Pada tahap ini siswa dapat membuat keputusan dengan menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah secara individu maupun kelompok. Siswa juga dapat mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menambah pengetahuannya.
Berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran kontekstual tersebut, maka langkah-langkah pembelajaran kontekstual seperti dibawah ini:
1)   Pendahuluan
a)          Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi yang akan dipelajari.
b)         Guru menjelaskan prosedur pembelajaran kontekstual:
(1)     Siswa dibagi dalam beberapa kelomok sesuai dengan     jumlah siswa
(2)     Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalkan kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke Puskesmas (memelihara  kesehatan diri sendiri) dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke Rumah sakit (memelihara kesehatan lingkungan).
(3)     Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang berhubungan dengan hasil temuan saat observasi tadi.
(4)     Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
2)   Inti
Di  Lapangan
a)    Siswa melakukan observasi ke Puskesmas sesuai dengan pembagian tugas kelompok
b)   Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan tadi sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
3)   Penutup
a)    Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah temuan sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai
b)   Guru menugaskan siswa untuk membuat tugas tentang pengalaman belajar mereka dengan tema “Kesehatan”.

6    5.      Peran Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Kontekstual
            Menurut Bobbi Deporter (dalam Asmani, 2011) ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu: tipe Visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indera penglihatannya. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya. Tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan kontekstual.
a.    Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian peran guru, bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b.    Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Belajar bagi anak adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
c.    Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau hubungan antara hal-hal yang sudah diketahui. Peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman lamanya.
     Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.


1 komentar: